Pages

Rabu, 19 Juni 2013

Dakwah

Dakwah..
belum lama ku kenal jalan ini. . .
belum juga banyak yang telah aku lakukan untuknya. . .
ujian kesetiaan pun masih dalam bilangan yang sedikit. . .

betapa malu diri ini. . .
mendengar kisah mujahidin. .
Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Ali ibn Umar, Usman bin Affan, Hasan dan Husain..
Siti Khadijah, Fatimah binti Rasulullah saw. . .
mereka berkorban dengan sepenuh jiwa dan harta. . .

Saat tak kuasa perasaanku tersiksa oleh ku sendiri. . .
terucap dalam benak, aku. . .
aku. . sudah lelah melangkah bersama kalian. .
aku berharap kebaikan dari manusia. . . semata-mata agar ada yang menerima ku

Tapi, kembali ku teringat pesan mu wahai kawan. . .
bahwa dakwah ini akan berjaya meski tanpaku. . .
dan amanah ini masih di pundakku. . .

Biarkan aku selesaikan dulu tugasku. . .
memastikan dakwah kita telah pada sosok yang tepat. .
memastikan dakwah ini tumbuh mengakar pada jiwa-jiwa ksatria-Nya. . .

Kini, aku kembali pada yang datang mengundangku. . .
Dakwah hingga akhirnya. .
ku kan sematkan puisi perpisahan sekaligus undangan pada mu, bersama menyusuri jalan menuju surga,
wahai kawan tercinta. . .


Senin, 17 Juni 2013

Latihan berdoa untuk ayah selagi beliau masih bersamaku

15 Zulhijah 21 tahun lalu terkisah seorang ayah perokok berat yang sangat menginginkan anak perempuan setelah doanya - tujuh tahun setelah pernikahan - dikabulkan oleh Allah swt untuk memiliki seorang putera, seketika berhenti merokok karena mendapati isterinya telah selamat melahirkan seorang puteri mungil dan putih. Subhanallah, sejak saat itu rokok tak pernah lagi menjadi sahabatnya. 

Alhamdulillah.. Setiap hari sang ayah melihat tumbuh kembang puterinya dengan penuh perhatian. Tak seorang pun mengira bahwa bapak yang jagoan silat ini ternyata sangat penyayang. Saking dekatnya ia dengan puterinya, setiap sang ayah keluar kota untuk bekerja, gadis kecil ini selalu terserang demam. 

Sejak puterinya masuk SMP, sang ayah pun semakin sering bertugas jauh dari rumah dan jarang pulang. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan keluarganya. Gadis kecil itu sering mendapat sindiran dari orang - orang perihal kepergian ayahnya yang mungkin disebabkan keretakan rumahtangganya. Namun, ia tetap yang paling tahu tentang kedua orangtuanya. "Keluarga kami memang tidak selalu berkumpul setiap hari, tetapi kami tahu bahwa kami tercipta untuk satu samalain dan akan tetap begitu sampai di akhirat. Ya kan Ya Allah?" begitu doa si tuan puteri setiap kali merasa rindu kepada ayahnya. 

Tak terasa waktu berjalan, sang ayah yang dulu kekar dan terpancar pesona keshalihan di tetsan air wudhunya, kini sudah tua dan sering menuntut perhatian kepada kami makmumnya. Mungkin karena usia membuatnya khawatir. Pada suatu ketika sang ayah sedang berbaring sambil menonton televisi ditemani puterinya, tanpa sengaja melihat tayangan tentang hari ayah, dan pembawa acaranya mengatakan bahwa agar para pemirsa memeluk dan mencium ayah yang berada disampingnya. Tanpa malu, gadis itu langsung mencium sang ayah dan berkata "ini loh ayahku, nih aku peluk, aku cium..", disambut dengan pelukan hangat dari ayahnya sambil menangis. Untuk pertama kali sanga ayah menangis dihadapan puterinya. 

Mungkin terdengar melakolis tetapi dia adalah ayahku. Seorang yang sejak dua puluh satu tahun lalu menjadi ayah yang selalu dapat aku banggakan -semoga Allah mengampuni dosanya- ialah penguat disaat aku mulai rajin mengeluh, meratapi hidupku. Ialah sosok pelipur disaat aku letih dalam mencari jatidiri dan penguat disaat aku mulai lunglai pasrah dalam dosa. Ialah alasan bagiku untuk menyusuri jalan dakwah dan menggarap ladang keshalihan. 

Baginya kupersembahkan doa terkhusyuk kepada rabb-ku dan rabb-nya. Semoga aku tak memberatkan langkahnya menuju surga Allah kelak di akhirat. 

"Allahummaghfirli wali wali dayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.. Aamiin.."