Minggu siang jam 08.00 pagi ini aku
bergegas berangkat ke kantor. Jarak kantor dan rumah tidak terlalu jauh.
Isteriku bilang ia juga akan keluar untuk membeli obat untuk putri ketiga kami.
Kak, aku ke toko obat beli obat untuk
Dede..
Anak-anak aku kunci di dalam rumah, mereka masih tidur.
Aku Cuma sebentar.
Anak-anak aku kunci di dalam rumah, mereka masih tidur.
Aku Cuma sebentar.
Saat menerima pesan dari isteriku,
tiba-tiba perasaan ku tidak nyaman. Aku putuskan untuk pulang ke rumah, melihat
anak-anakku.
Pukul 10.00 aku tiba di pekarangan rumah,
ku lihat ramai orang berkumpul di depan rumahku. Aku segera memarkir
kendaraanku dan kulihat banyak asap keluar dari celah-celah genting rumahku,
aku berlari menghampiri dan berteriak “Api..api..api..!” Semua orang hanya
ribut tanpa ada yang berusaha memadamkan api yang melahap rumahku.
“Masya Allah, anak-anak saya, Pak, Bu !”
Ku teriaki siapa saja yang ada tapi semua hanya berceloteh tanpa berbuat
apa-apa. “Anak-anak saya ada di dalam..!” Pekik ku sekali lagi sambil berlari
menuju pintu rumah.
Belum lagi dapat ku raih gagang pintu,
sejumlah warga menahan tubuhku dan menjauhkan ku dari pintu. Aku berteriak lagi
memanggil-anak-anak ku. Ku saksikan mereka sudah di depan kaca jendela,
menggedor-gedor kaca sambil menangis dan berteriak.
Aku tidak berdaya melepaskan diri dari
genggaman orang-orang besar yang terus menahan ku untuk menyelamatkan anak-anak
ku. AAARRRGGHHH!!!
Anak-anakku masih di depan jendela terus
menggedor-gedor kaca dan menangis. “Ayaaah..ayaaah...”. Sampai akhirnya aku
tidak lagi melihat mereka mungkin mereka lelah. Setelah satu jam pemadam
kebakaran datang dan bekerja, setelah padam barulah warga melepaskan aku, dan
membiarkan aku masuk mengeluarkan anak-anak ku dari sana. Alhamdulillah, aku
menemukan mereka di dekat jendela. Ya mereka bertiga berpelukan. Anak sululngku
memeluk kedua adiknya. Tubuh mereka hitam hitam semua dan kaku. Tubuh mereka
melekat satu sama lain dan kaku. Anak-anak ku telah tiada. Semoga Allah mengampuni kebodohanku selama diamanahi ketiga putriku ini..
Masih tak paham sesulit apakah menjebol jendela untuk menyelamatkan putri-putriku ini. Mengapa tidak ada satupun warga yang mendengar teriakan mereka, setidaknya iba melihat putri ku melambai-lambai di balik kaca.
Betapapun sesal yang kurasa takkan mengembalikan mereka. Aku ikhlaskan anak-anak ku yang masih kecil-kecil ini, semoga menjadi penyelamat di hari kiamat kelak.
Barangsiapa yang diamanahi Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup dididik secara baik, maka dia dapat jaminan surga
(HR.
Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)
.
Jambi, 2012