Pages

Jumat, 07 Agustus 2015

Pelatihan Edumagic


     Pelatihan Edumagic yang pertama di Serpong Tangsel. Berangkatnya naik motor hampir satu jam karena konvoi diperjalanan sedikit mengalami kendala. Ada yang hilang entah kemana, ada yang sibuk menelpon karena stag tidak tau jalan. Ada juga istirahat menunggu yang lain di persimpangan atau lampu merah.  Sampai di tekapeh, kami sedikit amazed, ternyata di pinggir jalan raya serpong arah Parung, ada "pabrik" serial anak-anak the Happy Holy Kids. 

     Di pelatihan ini kami belajar bernyanyi yang benar untuk anak-anak, sedikit diperkenalkan tentang produksi HHK, dan materi inti kali ini adalah Edumagic alias Sulap untuk pendidikan. Ada beberapa trik sulap yang ditunjukkan oleh trainer, Kak Tardy. Beberapa trik yang mengagumkan, yang biasanya cuma kami lihat di TV. Ternyata lagi, itu semua ada alatnya. Bisa dibeli di toko sulap. Dan beberapa trik yang diajarkan kepada kami. Luarbiasa. Benar-benar "magic".karena dengan benda-benda sederhana yang mudah kita temui sehari-hari bisa digunakan untuk menghibur dan mengajari anak tentang moral. Semua bahan dan cara memaiknannya dipadukan dengan bercerita tentang akhlak.. 


Kamis, 30 Juli 2015

Drama Sarung Warisan


Diangkat dari kisah nyata 

Pagi yang cerah nan ceria seketika mengiris hati. Lumuran darah yang membasahi seluruh kepala kakek tersayang. Beliau terjatuh dari atap lantai tiga rumah. Kejadian yang begitu mengejutkan ini sontak menggemparkan warga sepanjang gang. Kakek lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepanikan berlangsung begitu singkat. Sehelai kain sarung pun dipakaikan untuk menyelimuti tubuh kakek.
Tak terasa, hari-hari berlalu, kakek pun berangsur membaik. Mamah, tante, dan om bergantian menunggui di RS. Novi dan Ulfa, cucu kesayangan pun datang menengok keadaan kakek. Syukur terucap dalam hati mengetahui kakek sudah boleh kembali ke rumah.
“Ma, sarung Bapak mana?” Bisik Novi, si putri bungsu kepada Mama.
“Ada, lagi dicuci sama tante.” Jawab Mama tenang.
“Jangan sampe hilang atau rusak ya. Itu peninggalan almarhum Bapak satu-satunya untuk Novi.” Tegas Novi, lalu berpamitan pulang menyiapkan rumah untuk menyambut kepulangan kakek dari RS.
Sesampainya Kakek di rumah, Novi dan Ulfa kembali menanyakan sarung itu kepada Mama. Namun sarung itu tidak diketahui keberadaannya. Kini Ulfa angkat bicara.
“Ma, mana sarung Bapak? Kok dicari-cari tidak ketemu?”
“Aduh, dimana ya. Mama juga tidak tahu.” Jawab Mama bingung
“Pokoknya, Mama harus cari sarung itu. Itu peninggalan Bapak satu-satunya. ”
Sedikit menahan gundah Novi ikut bersuara, “Ingat tidak, Ma, Waktu Ayah pergi membawa semua barang-barang miliknya, tanpa mau menyisakan satupun untuk kita, lalu kami sembunyikan ditumpukan cucian?”
Seisi rumah pun sibuk mencari sarung yang tidak begitu bagus itu. Semua tumpukan pakaian dibongkar untuk menemukannya. Tetapi hasilnya nihil. Nenek menyerah dan meminta semuanya untuk berhenti mencari.
“Aduh , Sayang. Sarungnya dimana ya. Kalian beli saja ya, Nak. Ini nenek kasih uang seratus ribu. Harganya tidak mungkin lebih dari ini.” Kata Nenek sambil mengulurkan uang kepada Ulfa.
“Tidak. Kami mau sarung Bapak.”
“Belum ketemu, Nak. Nenek sudah lelah. Ini nenek tambah seratus ribu lagi ya.”
“Tidak. Pokoknya sarung itu harus ketemu!” teriak Ulfa menolak.
“Yasudah, Nenek tambah lagi deh, seratu ribu lagi untuk kalian beli sarung yang lebih bagus. Yang seperti sarung Bapak itu bisa dapat dua lho.” Rayu Nenek.
“Tidak, Nek. Biarpun Nenek kasih satu juta, kami tidak mau. Kami mau sarung itu!” Tegas Ulfa sambil menggenggam tangan adiknya, kemudian meninggalkan Nenek dan uangnya.
Akhirnya Nenek mengerahkan lagi seisi rumah untuk membongkar seluruh lemari dan juga tumpukan tumpukan pakaian untuk mencari sarung ajaib itu. Dan akhirnya sarung itu ditemukan terselip di lemari paling bawah. Tetapi Nenek dan yang lain sengaja tidak langsung mengembalikannya. Termasuk Suci kakak Ulfa dan Novi, menggoda Ulfa dan Novi yang sedang murung di teras.
“Yah, de. Sarungnya tidak ketemu. Lagi pula, sarung jelek masa ditangisi.” Goda Suci sambil tertawa
Novi pun menutup wajahnya dengan bercucuran airmata. Terus saja Kak Suci menertawainya. Karena kehilangan kesabaran, Novi yang tomboy dan berperawakan seperti laki –laki itu, mengambil segelas teh hangat di sampingnya dan segera saja ia lemparkan kepada Kak Suci.
“Cukup.! Siapapun yang menghilangkan atau merusak sarung itu, berurusan sama Novi!” Amarah Novi tak terbendung  dan meninggalkan semua orang.
Semua orang pun menertawainya dan mengembalikan sarung itu kepada Ulfa.

Kamis, 28 Mei 2015

Lupakan Ambisi Pribadi

Bersama tapi tidak sepaham..
sepaham tapi tidak bersama
kondsi yg selalu hadir di antar kita di majelis ini..

bukankah tujuan kita sama,
bukankah hati kita terpaut dakwah
bukankah tauladan kita rasulallah jua
bukankah kita lahir dari rahim dakwah yg tak beda

Banyak orang yang ingin bicara
banyak kata yang ingin disuarakan

Apakah benar atau salah
setidaknya persilahkan dengan ikhlas
atau majukan dengan cerdas..
bangkitlah.. enyahlah kau rasa malas

Gerakan ini gerakan rabbani
yakini satu hal, kita cinta harmoni
barisan cinta, bukan ambisi