Pages

Selasa, 23 Mei 2017

Legenda Laut Biru (English)

SO long ago, in the Deep Sea kingdom, there lived the sea king with his five mermaid daughters. SIRENETTA was the youngest and the loveliest among them. She had a beautiful voice and everybody from far and wide came to hear her sing and praised her voice and her beauty.

One day, while Sirenetta was swimming on the surface of the water and watching ships go by, she saw a young man falling off his ship. She swam swiftly to save him from drowning and dragged him to the shore. Soon, people found the man on the shore and Sirenetta swam away. This man was actually the prince of a kingdom. When he became conscious, the prince looked around for the girl who had saved him but no one knew who she was.

Sirenetta often thought of the young man and fell in love with the prince, but she was sad because she could never be like all the other ladies he knew. They had two feet and she had a fish tail!

In the Deep Sea lived a witch with magical powers. One day, Sirenetta went to beg her for human legs. The witch said, “I need your beautiful voice! Only then I shall give you legs! But you must remember, every time you set your feet on the ground, it will hurt very badly!” Sirenetta agreed. She did not mind the pain. All she wanted was to be with the prince. As soon as she got her two feet Sirenetta became dumb. When she was leaving, the witch said, “If your prince marries anybody else, you shall dissolve in the sea water. You can never become a mermaid again!”

With the witch’s magic spell, Sirenetta found herself lying on the beach and the prince looking down at her. He asked, “Where are you from?” But she could not reply. The prince took her to his palace and looked after her. They became good friends and had a wonderful time together. Every step Sirenetta took hurt, but she bore it all silently. She loved the prince but the prince was in love with the beautiful maiden who had saved him. The prince did not realise it had been Sirenetta and she couldn’t tell him.

Obeying the wishes of his father, the prince went to meet the daughter of a neighbouring king. Enchanted by her beauty the prince was convinced this was the same maiden who rescued him. He asked the princess to marry him. A grand wedding took place.

Sirenetta was heartbroken. That night, crying she ran to the seashore. There she saw four mermaids. Why, they were her sisters! One of them handed her a knife and said, “Here, Sirenetta! This is a magic knife! We gave our long hair locks to the witch of the Deep Sea and she gave this to us in return. Kill your prince and you shall turn into a mermaid again! Then you can come and live with us!”

Sirenetta took the magic knife and went to the prince’s room at night. But she loved him so much that she could not kill him. She knew that at dawn, she would vanish into the sea, just as the witch of the Deep Sea had told her earlier. She sat on the shore and wept silently.

Suddenly, from the sky came a pink cloud. It lifted her from the land into the sky. “Where am IT’ asked Sirenetta, for now she could talk. The beautiful fairies replied, “We are the air fairies. You are now one of us because you did a good deed for the person you love. Come with us.”

From then on, the little mermaid, Sirenetta, lived in the sky with the fairies.

Wah..menyentuh sekali ya kisahnya putri duyung ini. Dan juga berbeda dengan kisah putri duyung versi Disney :D . Untungnya, kisah ini hanya cerita rakyat.

Enjoy :)

Selasa, 27 Desember 2016

sanggul melati

Tiba-tiba sampai padaku kabar tentangmu.
Tiba-tiba saja riuh ucapan doa tertuju padamu.
Tiba-tiba haru menyelimuti aku..
Tiba-tiba waktu ku tak keruan..
Tiba-tiba saja tersiar kabar yang menggelitik hatiku..
Tiba-tiba hambar tawa terlepas dari bibir ku..
Tiba-tiba tersentuh hatiku..
Tiba-tiba saja teringat semua cita-cita tinggimu..
Mengapa engkau tak perjuangkan mimpimu..
Oh, semua yang tiba-tiba..
Tiba-tiba saja aku malu telah mengagumi mu..

Senin, 21 November 2016

Haru nan gelisah

Biarlah beku yg tidak tersampaikan..
Biarlah jatuh yg tidak terperhatikan..
Biarlah redup yg tidak terdengarkan..
Biar remuk yang tidak terrasakan..

Hujan buangi semua letih..
Awan tutupi semua perih..
Angin seberangi semua mimpi..
Kelabu telusupi semua hati.. 

Masih kah ruang di dalam sana tertata rapi
Saat matahari pun enggan menyinari.. 

Padanya ada rasa.. 
Padanya ada haru nan gelisah

Jumat, 07 Agustus 2015

Pelatihan Edumagic


     Pelatihan Edumagic yang pertama di Serpong Tangsel. Berangkatnya naik motor hampir satu jam karena konvoi diperjalanan sedikit mengalami kendala. Ada yang hilang entah kemana, ada yang sibuk menelpon karena stag tidak tau jalan. Ada juga istirahat menunggu yang lain di persimpangan atau lampu merah.  Sampai di tekapeh, kami sedikit amazed, ternyata di pinggir jalan raya serpong arah Parung, ada "pabrik" serial anak-anak the Happy Holy Kids. 

     Di pelatihan ini kami belajar bernyanyi yang benar untuk anak-anak, sedikit diperkenalkan tentang produksi HHK, dan materi inti kali ini adalah Edumagic alias Sulap untuk pendidikan. Ada beberapa trik sulap yang ditunjukkan oleh trainer, Kak Tardy. Beberapa trik yang mengagumkan, yang biasanya cuma kami lihat di TV. Ternyata lagi, itu semua ada alatnya. Bisa dibeli di toko sulap. Dan beberapa trik yang diajarkan kepada kami. Luarbiasa. Benar-benar "magic".karena dengan benda-benda sederhana yang mudah kita temui sehari-hari bisa digunakan untuk menghibur dan mengajari anak tentang moral. Semua bahan dan cara memaiknannya dipadukan dengan bercerita tentang akhlak.. 


Kamis, 30 Juli 2015

Drama Sarung Warisan


Diangkat dari kisah nyata 

Pagi yang cerah nan ceria seketika mengiris hati. Lumuran darah yang membasahi seluruh kepala kakek tersayang. Beliau terjatuh dari atap lantai tiga rumah. Kejadian yang begitu mengejutkan ini sontak menggemparkan warga sepanjang gang. Kakek lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepanikan berlangsung begitu singkat. Sehelai kain sarung pun dipakaikan untuk menyelimuti tubuh kakek.
Tak terasa, hari-hari berlalu, kakek pun berangsur membaik. Mamah, tante, dan om bergantian menunggui di RS. Novi dan Ulfa, cucu kesayangan pun datang menengok keadaan kakek. Syukur terucap dalam hati mengetahui kakek sudah boleh kembali ke rumah.
“Ma, sarung Bapak mana?” Bisik Novi, si putri bungsu kepada Mama.
“Ada, lagi dicuci sama tante.” Jawab Mama tenang.
“Jangan sampe hilang atau rusak ya. Itu peninggalan almarhum Bapak satu-satunya untuk Novi.” Tegas Novi, lalu berpamitan pulang menyiapkan rumah untuk menyambut kepulangan kakek dari RS.
Sesampainya Kakek di rumah, Novi dan Ulfa kembali menanyakan sarung itu kepada Mama. Namun sarung itu tidak diketahui keberadaannya. Kini Ulfa angkat bicara.
“Ma, mana sarung Bapak? Kok dicari-cari tidak ketemu?”
“Aduh, dimana ya. Mama juga tidak tahu.” Jawab Mama bingung
“Pokoknya, Mama harus cari sarung itu. Itu peninggalan Bapak satu-satunya. ”
Sedikit menahan gundah Novi ikut bersuara, “Ingat tidak, Ma, Waktu Ayah pergi membawa semua barang-barang miliknya, tanpa mau menyisakan satupun untuk kita, lalu kami sembunyikan ditumpukan cucian?”
Seisi rumah pun sibuk mencari sarung yang tidak begitu bagus itu. Semua tumpukan pakaian dibongkar untuk menemukannya. Tetapi hasilnya nihil. Nenek menyerah dan meminta semuanya untuk berhenti mencari.
“Aduh , Sayang. Sarungnya dimana ya. Kalian beli saja ya, Nak. Ini nenek kasih uang seratus ribu. Harganya tidak mungkin lebih dari ini.” Kata Nenek sambil mengulurkan uang kepada Ulfa.
“Tidak. Kami mau sarung Bapak.”
“Belum ketemu, Nak. Nenek sudah lelah. Ini nenek tambah seratus ribu lagi ya.”
“Tidak. Pokoknya sarung itu harus ketemu!” teriak Ulfa menolak.
“Yasudah, Nenek tambah lagi deh, seratu ribu lagi untuk kalian beli sarung yang lebih bagus. Yang seperti sarung Bapak itu bisa dapat dua lho.” Rayu Nenek.
“Tidak, Nek. Biarpun Nenek kasih satu juta, kami tidak mau. Kami mau sarung itu!” Tegas Ulfa sambil menggenggam tangan adiknya, kemudian meninggalkan Nenek dan uangnya.
Akhirnya Nenek mengerahkan lagi seisi rumah untuk membongkar seluruh lemari dan juga tumpukan tumpukan pakaian untuk mencari sarung ajaib itu. Dan akhirnya sarung itu ditemukan terselip di lemari paling bawah. Tetapi Nenek dan yang lain sengaja tidak langsung mengembalikannya. Termasuk Suci kakak Ulfa dan Novi, menggoda Ulfa dan Novi yang sedang murung di teras.
“Yah, de. Sarungnya tidak ketemu. Lagi pula, sarung jelek masa ditangisi.” Goda Suci sambil tertawa
Novi pun menutup wajahnya dengan bercucuran airmata. Terus saja Kak Suci menertawainya. Karena kehilangan kesabaran, Novi yang tomboy dan berperawakan seperti laki –laki itu, mengambil segelas teh hangat di sampingnya dan segera saja ia lemparkan kepada Kak Suci.
“Cukup.! Siapapun yang menghilangkan atau merusak sarung itu, berurusan sama Novi!” Amarah Novi tak terbendung  dan meninggalkan semua orang.
Semua orang pun menertawainya dan mengembalikan sarung itu kepada Ulfa.

Kamis, 28 Mei 2015

Lupakan Ambisi Pribadi

Bersama tapi tidak sepaham..
sepaham tapi tidak bersama
kondsi yg selalu hadir di antar kita di majelis ini..

bukankah tujuan kita sama,
bukankah hati kita terpaut dakwah
bukankah tauladan kita rasulallah jua
bukankah kita lahir dari rahim dakwah yg tak beda

Banyak orang yang ingin bicara
banyak kata yang ingin disuarakan

Apakah benar atau salah
setidaknya persilahkan dengan ikhlas
atau majukan dengan cerdas..
bangkitlah.. enyahlah kau rasa malas

Gerakan ini gerakan rabbani
yakini satu hal, kita cinta harmoni
barisan cinta, bukan ambisi


Senin, 15 Desember 2014

Kematian yang sangat menyakitkan



Minggu siang jam 08.00 pagi ini aku bergegas berangkat ke kantor. Jarak kantor dan rumah tidak terlalu jauh. Isteriku bilang ia juga akan keluar untuk membeli obat untuk putri ketiga kami.

Kak, aku ke toko obat beli obat untuk Dede..
Anak-anak aku kunci di dalam rumah, mereka masih tidur.
Aku Cuma sebentar.

Saat menerima pesan dari isteriku, tiba-tiba perasaan ku tidak nyaman. Aku putuskan untuk pulang ke rumah, melihat anak-anakku.

Pukul 10.00 aku tiba di pekarangan rumah, ku lihat ramai orang berkumpul di depan rumahku. Aku segera memarkir kendaraanku dan kulihat banyak asap keluar dari celah-celah genting rumahku, aku berlari menghampiri dan berteriak “Api..api..api..!” Semua orang hanya ribut tanpa ada yang berusaha memadamkan api yang melahap rumahku.

“Masya Allah, anak-anak saya, Pak, Bu !” Ku teriaki siapa saja yang ada tapi semua hanya berceloteh tanpa berbuat apa-apa. “Anak-anak saya ada di dalam..!” Pekik ku sekali lagi sambil berlari menuju pintu rumah.

Belum lagi dapat ku raih gagang pintu, sejumlah warga menahan tubuhku dan menjauhkan ku dari pintu. Aku berteriak lagi memanggil-anak-anak ku. Ku saksikan mereka sudah di depan kaca jendela, menggedor-gedor kaca sambil menangis dan berteriak.

Aku tidak berdaya melepaskan diri dari genggaman orang-orang besar yang terus menahan ku untuk menyelamatkan anak-anak ku. AAARRRGGHHH!!!

Anak-anakku masih di depan jendela terus menggedor-gedor kaca dan menangis. “Ayaaah..ayaaah...”. Sampai akhirnya aku tidak lagi melihat mereka mungkin mereka lelah. Setelah satu jam pemadam kebakaran datang dan bekerja, setelah padam barulah warga melepaskan aku, dan membiarkan aku masuk mengeluarkan anak-anak ku dari sana. Alhamdulillah, aku menemukan mereka di dekat jendela. Ya mereka bertiga berpelukan. Anak sululngku memeluk kedua adiknya. Tubuh mereka hitam hitam semua dan kaku. Tubuh mereka melekat satu sama lain dan kaku. Anak-anak ku telah tiada. Semoga Allah mengampuni kebodohanku selama diamanahi ketiga putriku ini..

Masih tak paham sesulit apakah menjebol jendela untuk menyelamatkan putri-putriku ini. Mengapa tidak ada satupun warga yang mendengar teriakan mereka, setidaknya iba melihat putri ku melambai-lambai di balik kaca. 

Betapapun sesal yang kurasa takkan mengembalikan mereka. Aku ikhlaskan anak-anak ku yang masih kecil-kecil ini, semoga menjadi penyelamat di hari kiamat kelak.
 

Barangsiapa yang diamanahi Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup dididik secara baik, maka dia dapat jaminan surga
(HR. Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)

.
 Jambi, 2012