Diangkat dari kisah nyata
Pagi yang cerah nan ceria seketika mengiris hati. Lumuran darah yang membasahi seluruh kepala kakek tersayang. Beliau terjatuh dari atap lantai tiga rumah. Kejadian yang begitu mengejutkan ini sontak menggemparkan warga sepanjang gang. Kakek lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepanikan berlangsung begitu singkat. Sehelai kain sarung pun dipakaikan untuk menyelimuti tubuh kakek.
Tak terasa, hari-hari berlalu, kakek pun berangsur membaik. Mamah, tante,
dan om bergantian menunggui di RS. Novi dan Ulfa, cucu kesayangan pun datang
menengok keadaan kakek. Syukur terucap dalam hati mengetahui kakek sudah boleh
kembali ke rumah.
“Ma, sarung Bapak mana?” Bisik Novi, si putri bungsu kepada Mama.
“Ada, lagi dicuci sama tante.” Jawab Mama tenang.
“Jangan sampe hilang atau rusak ya. Itu peninggalan almarhum Bapak
satu-satunya untuk Novi.” Tegas Novi, lalu berpamitan pulang menyiapkan rumah
untuk menyambut kepulangan kakek dari RS.
Sesampainya Kakek di rumah, Novi dan Ulfa kembali menanyakan sarung itu kepada
Mama. Namun sarung itu tidak diketahui keberadaannya. Kini Ulfa angkat bicara.
“Ma, mana sarung Bapak? Kok dicari-cari tidak ketemu?”
“Aduh, dimana ya. Mama juga tidak tahu.” Jawab Mama bingung
“Pokoknya, Mama harus cari sarung itu. Itu peninggalan Bapak satu-satunya.
”
Sedikit menahan gundah Novi ikut bersuara, “Ingat tidak, Ma, Waktu Ayah
pergi membawa semua barang-barang miliknya, tanpa mau menyisakan satupun untuk
kita, lalu kami sembunyikan ditumpukan cucian?”
Seisi rumah pun sibuk mencari sarung yang tidak begitu bagus itu. Semua
tumpukan pakaian dibongkar untuk menemukannya. Tetapi hasilnya nihil. Nenek
menyerah dan meminta semuanya untuk berhenti mencari.
“Aduh , Sayang. Sarungnya dimana ya. Kalian beli saja ya, Nak. Ini nenek
kasih uang seratus ribu. Harganya tidak mungkin lebih dari ini.” Kata Nenek
sambil mengulurkan uang kepada Ulfa.
“Tidak. Kami mau sarung Bapak.”
“Belum ketemu, Nak. Nenek sudah lelah. Ini nenek tambah seratus ribu lagi
ya.”
“Tidak. Pokoknya sarung itu harus ketemu!” teriak Ulfa menolak.
“Yasudah, Nenek tambah lagi deh, seratu ribu lagi untuk kalian beli sarung
yang lebih bagus. Yang seperti sarung Bapak itu bisa dapat dua lho.” Rayu
Nenek.
“Tidak, Nek. Biarpun Nenek kasih satu juta, kami tidak mau. Kami mau sarung
itu!” Tegas Ulfa sambil menggenggam tangan adiknya, kemudian meninggalkan Nenek
dan uangnya.
Akhirnya Nenek mengerahkan lagi seisi rumah untuk membongkar seluruh lemari
dan juga tumpukan tumpukan pakaian untuk mencari sarung ajaib itu. Dan akhirnya
sarung itu ditemukan terselip di lemari paling bawah. Tetapi Nenek dan yang
lain sengaja tidak langsung mengembalikannya. Termasuk Suci kakak Ulfa dan
Novi, menggoda Ulfa dan Novi yang sedang murung di teras.
“Yah, de. Sarungnya tidak ketemu. Lagi pula, sarung jelek masa ditangisi.”
Goda Suci sambil tertawa
Novi pun menutup wajahnya dengan bercucuran airmata. Terus saja Kak Suci
menertawainya. Karena kehilangan kesabaran, Novi yang tomboy dan berperawakan
seperti laki –laki itu, mengambil segelas teh hangat di sampingnya dan segera
saja ia lemparkan kepada Kak Suci.
“Cukup.! Siapapun yang menghilangkan atau merusak sarung itu, berurusan
sama Novi!” Amarah Novi tak terbendung
dan meninggalkan semua orang.
Semua orang pun menertawainya dan mengembalikan sarung itu kepada Ulfa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bismillahirrahmanirrahiim