Pages

Rabu, 28 Agustus 2013

Catatan ukhti

Suatu hari seseorang bertanya padaku, "Siapa yang paling kau cintai di dunia ini?",

"Allah." Kataku.

"sebesar apa cintamu kepada Allah?"

jawabku, "sebesar seluruh cinta yang mampu aku persembahkan dan semua itu untuk-Nya"

"apa buktinya?"

Sejenak aku terdiam menatap wajah orang yang menghakimiku ini. Kemudian ia pergi meninggalkanku, seolah ia tahu aku tak mampu menjawab pertanyaannya.

Waktu pun berlalu, sejauh ini ku jalani hari tanpa rasa. Tugas-tugas ku kerjakan dengan enteng, hingga tak sadar ada amanah kesungguhan pada tugas-tugas ini yang aku lupa. Hak untuk orangtua bahkan hak untuk diriku sendiri sudah lama terabaikan.

Hingaa tiba saatnya semua yang aku kerjakan mencapai klimaksnya. Di sekolah nilaiku merosot, di rumah ibuku bilang bahwa urusanku di luar akan membunuhku, di lingkungan dakwah reputasiku tercemar, dan tak mau lagi otakku diajak berpikir, di kepalaku hanya ada tanya 'mengapa semua menjauhiku?' , tiada tempat lain yang menjadi tujuanku kini, kurapatkan lagi dahiku ke sajadah. Merenungi nasib, memikirkan apa yang salah padaku, airmata tak terbendung lagi.....

ya Allah ya kariim, aku tak tau caranya merengkek pada-Mu...

aku melunak, tak berdaya membantah cercaan terhadap diriku sendiri. Bahwa ini saatnya untuk sang jiwa.

Allah ta'ala sedang menguji cintaku.
seperti biasa pikirku, cinta itu memerlukan pembuktian..

telah datang perkara asin lagi pahit.. cemburkah Engkau, Ya Rabb? cemburu dengan apa yang beberapa waktu ini aku utamakan..

aku... ikhlas pada kehendak-Mu, bahkan jika pantas...aku ingin kembali kepada-Mu cepat. Ya Rahiim, ku butuh kasihsayang-Mu.
 
Allahumma afrigh ‘ alayna shabran watsabbit aqdamana wanshurna ‘ alal qawmil kafirina . rabbana la tuzigh qulubana ba’da id’za daytana wahablana min ladunka rahmatan innaka antal wahhab . Allahumma tsabbitni an azila wahdini an adhilla. Allahumma kama hulta bayni wa bayna qalbi fahul bayni wa baynasy syaithani wa’amalihai . Allahumma inni as-aluka nafsan muthmainnatan tu’minu biliqa-ika wa tardha biqadhaika wa taqna’u bi’atha-ika.

Ya Allah, limpahkan kesabaran atas kami , tetapkanlah kedua telapak kaki kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Ya Tuhan kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki kami dan berilah kami dari hadirat-Mu rahmat karena Engkau Maha Pemberi, Ya Allah kokohkan lah aku dari kemungkinan terpelesetnya iman dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan tersesat. Ya Allah sebagai mana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku dan berikanlah penghalang antara aku dengan setan serta perbuatannya . Ya Allah aku mohonkan pada-Mu jiwa yang tenang dan tentram yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas putusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu.

aamiin..

3..2..1..go !

Mulai sekarang

harus baik selalu..
sholat di awal waktu..
membahagiakan ortu,
bersama mereka, lebih banyak waktu..

mulai sekarang

sering-sering evaluasi diri..
harus lebih mandiri..
tambah semangat raih prestasi..
biar bisa menunjukkan bakti..

mulai sekarang

kudu rajin belajarr..
supaya sukses karna pintarr..
agar bisa membantu orang-orang terlantarr..
itulah pribadi yang cetarr..

Mulai dari SEKARANG... mumpung masih MUDA

Selasa, 20 Agustus 2013

Video 14/08/2013

Bismillah..

Video berikut ini adalah bukti kekejaman militer Mesir. Pendemo dan warga sipil ditembaki dengan gas airmata dan peluru tajam dari barbagai arah. Bahkan penembak jitu mereka kerahkan untuk membubarkan massa pro-Mursi (14/8/2013) ini.

Para pendemo tak bersenjata ini tak mampu melawan, kecuali meneriakkan takbir dan bersiap menjadi syuhada. Ratusan orang tewas dan luka-luka.

http://www.youtube.com/watch?v=5dn_RCVkfL4

Sumber:
arrahmah.com

Kamis, 15 Agustus 2013

#selamatkan tanah air kita

Palestina, Libya, Syria, Myanmar, dan kini Mesir. Tempat di mana saudara-saudara muslim dijajah dan dirampas hak-haknya termasuk haknya untuk hidup oleh para yahudi biadab dan sekutu-sekutunya.

Speechless... maaf ,saudaraku, saya terlambat menyadari kejadian ini..
Baru sekarang mulai menyaksikan syahid-mu dan merasakan penderitaan-mu dari balik layar yang aman ini..

Teringat kalimat yang meruntuhkan airmata teriring sesal mendalam..,

"kami, Ikhwanul Muslimin, yakin seyakin-yakinnya bahwa mengabaikan sejengkal tanah yang dihuni oleh seorang muslim adalah tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga kita mengembalikannya, atau hancur karenanya."

Kami mencintaimu wahai syuhada....


Kamis, 18 Juli 2013

Untuk anak-anak ayah tercinta

Assalamu'alaikum , anak-anakku..

Ayah ingin ceritakan sedikit tentang Ayah..

Dulu ketika ayah masih muda dan gagah, ayah selalu berpikir apa saja untuk membahagiakan kalian. Ayah bekerja dengan sepenuh hati dan tenaga yang ayah punya, untuk kalian. Karena kalian adalah raja bagi ayah dan Ibu kalian. Bahkan ayah sampai lupa kehadirat Tuhan, Sang Raja yang sesungguhnya dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

Ayah bahagia sekali melihat senyum di wajah kalian, setiap ayah pulang membawa oleh-oleh, tak pernah Ayah pulang dengan tangan kosong. Kini kalian sudah dewasa dan Ayah mulai lemah, Ayah mengerti apa yang kalian rasakan waktu kecil. Ayah pun demikian, ingin selalu dimanja.

Namun sepertinya kedewasaan kalian adalah sinyal bagi Ayah dan Ibu untuk berpisah dengan kalian. Kalian mulai pergi dan jarang menengok Ayah dan Ibu di rumah. Jadilah hanya Ibu yang merawat Ayah tanpa lelah. Dengar Nak, Ibu kalian juga sudah tua. Sudah mulai pikun, sering sakit, dan tak jarang Ayah melihat ibu menangis saat tubuh rentanya tak kuat berjalan.

Uang yang setiap bulan kalian bawakan cukup memenuhi kebutuhan kami, meski itulah yang menjadikan kalian berselisih. Pertengkaran kalian seperti kaca yang mengiris hati kami. Terutama Ayah, tak pantaskah kami menerima belas kasih kalian, setidaknya untuk mengganti sebagian kecil dari oleh-oleh yang Ayah bawakan sewaktu kalian kecil.

Ayah tahu, kami tak pantas berharap balas budi kalian, namun jika bukan kalian yang menjadi pembela kami, siapa lagi? Di akhirat kelak pun Ayah akan tetap menjadi Ayah kalian, yang dimintai pertanggung jawaban atas diri kalian, anak-anak Ayah.

Di hari-hari senja, Ayah berharap bisa bermanja dengan kalian, menikmati masa tua indah bersama Ibu, menimang dan bermain bersama cucu. Namun, yang terjadi malah keributan di antara kalian. Meributkan biaya pengobatan penyakit tua Ayah, biaya listrik dan air, biaya makan kami, yang kalian anggap tak adil pembagiannya. Menangis hati Ayah namun tak sanggup pula Ayah menolak pemberian kalian, karena memang Ayah tak dapat mencari nafkah lagi.

Belum lagi rumah yang hendak kalian jual padahal Ayah dan Ibu masih menempatinya. Kalian tahu, Ayah sedih sekali mendengan keributan soal yang satu ini, sebab di rumah inilah kalian dibesarkan, ke rumah ini Ayah pulang dan membawa oleh-oleh untuk kalian. Tetapi Ayah mengerti kekhawatiran kalian, rumah ini memang warisan satu-satunya yang Ayah dan Ibu miliki. Ayah merasa seperti benda rongsokan yang sayang bila dibuang. Benar kah?

Beberapa jam yang lalu, Ayah sadar, Ayah menangis untuk terakhir kalinya, 'Penjemput' Ayah telah tiba, rupanya Ibumu sudah menangkap pertandanya, ia pun mendatangi Ayah seusai shalat malam dan meminta Ayah meridhoinya, memaafkan segala kesalahannya. Ibumu menangis mencium tangan Ayah, dan yang mengiris hati Ayah bukan terharu akan kesalihan ibu kalian, namun saat itu tak ada satupun anak Ayah memberi sapaan terakhir.

Di detik-detik terakhir Ayah di dunia ini, Ayah ingat semua kejadian indah saat Ayah kanak-kanak, remaja, dewasa dan memiliki anak pertama, kedua, dan ketiga. Semuanya kebahagiaan Ayah. Astaghfirullah.. benar-benar sudah dekat malaikat maut itu. Selamat tinggal istriku, selamat tinggal anak-anak ayah...

Oh.. Ternyata Ayah masih bisa merasakan dan melihat kalian, dari ruang yang berbeda ini, tubuh Ayah telah kaku dan sakit ketika tersentuh. Bergantian orang-orang datang. Syukurlah, kalian juga datang dan menangisi kepergian Ayah. Tak lupa 'kan, permintaan Ayah yang terakhir, Ayah ingin dimakamkan di TPU tengah kota, dekat kubur saudara Ayah.

Bersama keluarga kalian masing-masing, Ayah melihat airmata cucu ayah yang ketakutan melihat jenazah Ayah. Kalian sibuk mempersiapkan acara pemandian dan pemakaman Ayah. Tetangga juga sangat baik mau membantu kalian. Saat dimandikan, Ayah berharap pelan-pelan saja menyirami dan menggosok tubuh Ayah, Nak. Tetesan air itu terasa pedih di tubuh jenazah.

Apa lagi salah Ayah? lagi-lagi kalian ribut masalah pemakaman Ayah. Hanya karena harga tanahnya yang agak mahal, kalian memilih menolak permintaan Ayah dan memilih TPU di pinggiran kota yang sebagian wilayahnya terendam air

Meski sedih, tapi Ayah tak dapat menolak. Terserah kalian saja. Oya, tahu tidak, Nak saat kalian menurunkan jenazah Ayah ke liang lahat, rasanya Ayah tenggelam, seperti cucian kotor yang kalian rendam. Dingin sekali, makanya Ayah mengitari kalian semua dan pengantar yang ada untuk meminta selimut. Namun nihil, kalian tetap tega merendam Ayah dan tanah makam jatuh mengotori sebagian kain penutup Ayah sebelum kalian menutup Ayah dengan papan penyanggah, begitu terburu-buru.

Selesai sampai di sini kah harapan Ayah terhadap kalian? Tidak, anak-anak Ayah. Ayah tetap menunggu kiriman doa kalian. Doa yang mungkin bisa menghangatkan tubuh Ayah dan melegakan sedikit lubang ini.
Hanya doa kalian yang tulus, sampai bagi Ayah. Semoga kalian tetap sehat, segara sadar akan dosa kalian, dan Allah jadikan Ayah ayah yang beruntung karena keshalihan kalian, meskipun Ayah tak lagi di sisi kalian. Namun Ayah tetap ada dan selalu menunggu doa-doa kalian untuk Ayah.


Salam,

Ayah yang menyayangi kalian




Rabu, 19 Juni 2013

Dakwah

Dakwah..
belum lama ku kenal jalan ini. . .
belum juga banyak yang telah aku lakukan untuknya. . .
ujian kesetiaan pun masih dalam bilangan yang sedikit. . .

betapa malu diri ini. . .
mendengar kisah mujahidin. .
Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Ali ibn Umar, Usman bin Affan, Hasan dan Husain..
Siti Khadijah, Fatimah binti Rasulullah saw. . .
mereka berkorban dengan sepenuh jiwa dan harta. . .

Saat tak kuasa perasaanku tersiksa oleh ku sendiri. . .
terucap dalam benak, aku. . .
aku. . sudah lelah melangkah bersama kalian. .
aku berharap kebaikan dari manusia. . . semata-mata agar ada yang menerima ku

Tapi, kembali ku teringat pesan mu wahai kawan. . .
bahwa dakwah ini akan berjaya meski tanpaku. . .
dan amanah ini masih di pundakku. . .

Biarkan aku selesaikan dulu tugasku. . .
memastikan dakwah kita telah pada sosok yang tepat. .
memastikan dakwah ini tumbuh mengakar pada jiwa-jiwa ksatria-Nya. . .

Kini, aku kembali pada yang datang mengundangku. . .
Dakwah hingga akhirnya. .
ku kan sematkan puisi perpisahan sekaligus undangan pada mu, bersama menyusuri jalan menuju surga,
wahai kawan tercinta. . .


Senin, 17 Juni 2013

Latihan berdoa untuk ayah selagi beliau masih bersamaku

15 Zulhijah 21 tahun lalu terkisah seorang ayah perokok berat yang sangat menginginkan anak perempuan setelah doanya - tujuh tahun setelah pernikahan - dikabulkan oleh Allah swt untuk memiliki seorang putera, seketika berhenti merokok karena mendapati isterinya telah selamat melahirkan seorang puteri mungil dan putih. Subhanallah, sejak saat itu rokok tak pernah lagi menjadi sahabatnya. 

Alhamdulillah.. Setiap hari sang ayah melihat tumbuh kembang puterinya dengan penuh perhatian. Tak seorang pun mengira bahwa bapak yang jagoan silat ini ternyata sangat penyayang. Saking dekatnya ia dengan puterinya, setiap sang ayah keluar kota untuk bekerja, gadis kecil ini selalu terserang demam. 

Sejak puterinya masuk SMP, sang ayah pun semakin sering bertugas jauh dari rumah dan jarang pulang. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan keluarganya. Gadis kecil itu sering mendapat sindiran dari orang - orang perihal kepergian ayahnya yang mungkin disebabkan keretakan rumahtangganya. Namun, ia tetap yang paling tahu tentang kedua orangtuanya. "Keluarga kami memang tidak selalu berkumpul setiap hari, tetapi kami tahu bahwa kami tercipta untuk satu samalain dan akan tetap begitu sampai di akhirat. Ya kan Ya Allah?" begitu doa si tuan puteri setiap kali merasa rindu kepada ayahnya. 

Tak terasa waktu berjalan, sang ayah yang dulu kekar dan terpancar pesona keshalihan di tetsan air wudhunya, kini sudah tua dan sering menuntut perhatian kepada kami makmumnya. Mungkin karena usia membuatnya khawatir. Pada suatu ketika sang ayah sedang berbaring sambil menonton televisi ditemani puterinya, tanpa sengaja melihat tayangan tentang hari ayah, dan pembawa acaranya mengatakan bahwa agar para pemirsa memeluk dan mencium ayah yang berada disampingnya. Tanpa malu, gadis itu langsung mencium sang ayah dan berkata "ini loh ayahku, nih aku peluk, aku cium..", disambut dengan pelukan hangat dari ayahnya sambil menangis. Untuk pertama kali sanga ayah menangis dihadapan puterinya. 

Mungkin terdengar melakolis tetapi dia adalah ayahku. Seorang yang sejak dua puluh satu tahun lalu menjadi ayah yang selalu dapat aku banggakan -semoga Allah mengampuni dosanya- ialah penguat disaat aku mulai rajin mengeluh, meratapi hidupku. Ialah sosok pelipur disaat aku letih dalam mencari jatidiri dan penguat disaat aku mulai lunglai pasrah dalam dosa. Ialah alasan bagiku untuk menyusuri jalan dakwah dan menggarap ladang keshalihan. 

Baginya kupersembahkan doa terkhusyuk kepada rabb-ku dan rabb-nya. Semoga aku tak memberatkan langkahnya menuju surga Allah kelak di akhirat. 

"Allahummaghfirli wali wali dayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.. Aamiin.."