Pages

Senin, 25 November 2013

Dakwah di Sekolahku

Tiga tahun lalu, aku mulai melirik dunia dakwah sekola. Padahal, aku sudah dinyatakan lulus dari SMK. Hem.. aku jadi bingung harus bercerita dari mana..

Sebenarnya, sejak masa orientasi siswa, aku sudah terdaftar sebagai anggota ROHIS SMK, namun karena aku juga aktif latihan beladiri -waktu itu- membuatku menjadi anggota pasif di ROHIS. Aku tidak pernah hadir mentoring ROHIS, ta'lim gabungan pun hanya sebulan sekali, acara apapun yang diadakan hampir tak pernah aku ikuti, hanya jika ada waktu senggang alias tidak bentrok dengan jam latihan.

Mungkin ini yang disebut hidayah, setelah lulus sekolah aku dilanda gelisah memikirkan kerja atau nikah -sudah ada calonnya- aku tak percaya saran siapapun, termasuk sahabatku sendiri. Entah bagaimana, aku pun mendatangi seorang kakak mentor ROHIS yang tidak begitu aku kenal. Beliau masih muda dan sudah menikah, tentu bisa mengarahkanku kepada solusi yang baik. Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang ROHIS -membosankan-, lalu dengan persaan galau, aku minta didata sebagai anggota aktif ketika temanku itu mendata seluruh anggota ROHIS dan mengklasifikasi anggota pasif dan aktif. Sejak itu aku mulai rajin datang dan ikut acara ROHIS di sekolah walaupun sudah berstatus alumnus.

Saat ikut rihlah (jalan-jalan) ROHIS selama dua hari membuatku merasa memiliki teman-teman yang menyenangkan dan menyejukkan, persaudaraan yang selama ini tidak pernah aku rasakan. Mereka baik dan tulus, lembut serta penuh kasihsayang kepada ku. Tak ada anak emas apalagi yang paling hebat, semuanya saling menyayangi.

Satu tahun menjadi aktifis ROHIS, membuatku semakin kadung akan dakwah. Aku pun bergabung di sebuah organisasi remaja masjid. Semakin hari, aku mulai mengerti mengapa dakwah itu butuh kesabaran, dan mengapa para da'i (pendakwah) tidak ingin pergi dari mimbar-mimbarnya. Benar bahwa ummat membutuhkan tuntunan dan bimbingan namun mereka tidak tau betapa mereka butuh. Ummat butuh bantuan pendokrak moral yang sudah lama hilang dari citra bangsa kita. Itu lah tanggungjawab kita, para aktifis dakwah.

Kembali ke topik, tentang dakwah di sekolahku. Setiap hari merasa sibuk dengan berbagai urusan pribadi, kesibukan kerja dan dakwah di luar ROHIS sekolah, telah melalaikanku dari dakwah di sekolahku. Adik-adik kelas, mulai kehilangan arah pergerakan. Satu tahun tanpa melihat mereka, membuatku beristighfar sebanyak-banyaknya, mereka telah hilang dari markas kami yang agung. Tak ada lagi yang mewarnai masjid kami dengan aktifitas-aktifitas tentara putih abu-abu yang biasanya ramai.

Ku coba menilik, ada apa sih, kok hilang aktifis ROHISnya?? ternyata ada virus pink yang mewabah sehingga ta'lim bukan agenda rutin mereka lagi. Duduk-duduk di aula sekolah bersama kekasih, makan berdua sama pacar., tanpa peduli sorotan publik yang menuntut kesolehan mereka. huft.. agenda baru yang asyik memang, tapi memalukan sekali jika pelakunya adalah orang-orang yang seharusnya mengakkan syari'at Islam. Mbok ya diinget gitu loh, niat waktu pertama memutuskan gabung di ROHIS. Katanya mau belajar agama dan menjadi manusia yang lebih baik.

Di pikir-pikir, benar tidak ada asap jika tak ada api. Coba aku tulis penyebab adik-adik ku sampai begini, mungkin inlah dia:
1. Mereka malas datang mengaji
2.  Mereka bosan dengan agenda ROHIS yang monoton
3. Kakak Pembina tak pernah datang menengok

Faktor ketiga yang paling banyak peran meruntuhkan perjuangan para aktifis dakwah sekolah. Menyesal ? Sangat, karena sibuk dengan dunia baru melupakan rumah lama yang butuh perwatan lebih. Mari merenung lagi deh setahun. Tak ada aktifitas dakwah selama satu tahun. Al hasil, lost satu angkatan bahkan dua.

Baik. Sudah lama sekali fakum tanpa seruan jihad di sekolah tercinta ini, kami mulai bersatu lagi, aku dan alumni yang masih peduli ROHIS, membentuk semacam panitia persiapan kemerdekaan. Walaupun tak lama kemudian kami terpecah karena tak sejalan. Masih ada segelintir yang istiqomah, yang seiya sekata. kurang lebih satu bulan kami diam tanpa gerak sama sekali. Aku pun mengeluh kepada pembina senior kami. Kalimatnya benar-benar sakti, "Ïnsya Allah, setelah ini kita akan bergerak melesat. Allahu akbar.!". Yup, Allaahu akbar.. Setelah mengevaluasi, kami berusaha mulai lagi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu.

Alhmadulillah, sekarang ROHIS SMK kami, tengah menjadi sorotan seluruh siswa dan para guru, bahkan menjadi ekskul paling elit karena semangat dan keteraturan para anggotanya. Para guru sekolah lainyang berada dalam satu yayasan dengan SMK, menuntut agar pembina ROHIS untuk membuka ekskul ini bagi siswa-siswanya.


Ukh. Abdillah
November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim