Pages

Rabu, 04 September 2013

Merah saga by shouhar

Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir....

Semua menjadi saksi
atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
atas keteguhanmu....

Ketika yahudi yahudi membantai mu
Merah berkesimbah ditanah air mu
Mewangi harum genangan darahmu
Mebebaskan bumi jihad palestina
Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
Syahid dalam cinta-NYA

Pentingkah SIM?

SIM adalah kartu kecil namun mahal yang harus dimiliki oleh pengendara motor/mobil. Menurut UU No. 22 Tahun 2009 pasal 77 ayat 1, "Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan administrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas dan terampil mengemudikan kendaraan bermotor. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan." Namun ternyata 40 % pengendara tidak memiliki SIM. ow..ow..ow.. Padahal hampir semua orang yang tinggal di daerah perkotaan memiliki kendaraan pribadi yang dikemudikan sendiri. Ada yang menggunakannya untuk jarak dekat, ada juga yang menggunakannya untuk jarak jauh. Penulis sendiri adalah termasuk dalam 40 % ini.

Menurut hemat penulis, SIM adalah bentuk pemborosan dan hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

SIM adalah jimat. why?? karena, hampir semua orang yang memiliki SIM hanya untuk menghindari razia polisi atau sekedar jaga-jaga "mana tau kita bakal apes??".Selain itu, SIM adalah ladang parasit. Ini seperti 'jika tertangkap(melanggar aturan) punya SIM bayarnya sedikit, tapi kalau tertangkap tanpa SIM bayarnya banyak' keharusan yang merugikan ya? So, selama taat pada rambu-rambu dan aturan lalu lintas, cukup berdoa supaya Allah -subhanahu wa ta'ala- selamatkan kita dari kecelakaan. 

Penulis sudah dua tahun ini berkendara motor tapi semuanya 'biasa saja' tanpa SIM. Penulis bukannya tidak mau taat pada peraturan, tapi sampai sekarang penulis belum mengerti mengapa semua pengendara harus mempunyai SIM.

Hehehe
Damai pak polisi...!




Rabu, 28 Agustus 2013

Catatan ukhti

Suatu hari seseorang bertanya padaku, "Siapa yang paling kau cintai di dunia ini?",

"Allah." Kataku.

"sebesar apa cintamu kepada Allah?"

jawabku, "sebesar seluruh cinta yang mampu aku persembahkan dan semua itu untuk-Nya"

"apa buktinya?"

Sejenak aku terdiam menatap wajah orang yang menghakimiku ini. Kemudian ia pergi meninggalkanku, seolah ia tahu aku tak mampu menjawab pertanyaannya.

Waktu pun berlalu, sejauh ini ku jalani hari tanpa rasa. Tugas-tugas ku kerjakan dengan enteng, hingga tak sadar ada amanah kesungguhan pada tugas-tugas ini yang aku lupa. Hak untuk orangtua bahkan hak untuk diriku sendiri sudah lama terabaikan.

Hingaa tiba saatnya semua yang aku kerjakan mencapai klimaksnya. Di sekolah nilaiku merosot, di rumah ibuku bilang bahwa urusanku di luar akan membunuhku, di lingkungan dakwah reputasiku tercemar, dan tak mau lagi otakku diajak berpikir, di kepalaku hanya ada tanya 'mengapa semua menjauhiku?' , tiada tempat lain yang menjadi tujuanku kini, kurapatkan lagi dahiku ke sajadah. Merenungi nasib, memikirkan apa yang salah padaku, airmata tak terbendung lagi.....

ya Allah ya kariim, aku tak tau caranya merengkek pada-Mu...

aku melunak, tak berdaya membantah cercaan terhadap diriku sendiri. Bahwa ini saatnya untuk sang jiwa.

Allah ta'ala sedang menguji cintaku.
seperti biasa pikirku, cinta itu memerlukan pembuktian..

telah datang perkara asin lagi pahit.. cemburkah Engkau, Ya Rabb? cemburu dengan apa yang beberapa waktu ini aku utamakan..

aku... ikhlas pada kehendak-Mu, bahkan jika pantas...aku ingin kembali kepada-Mu cepat. Ya Rahiim, ku butuh kasihsayang-Mu.
 
Allahumma afrigh ‘ alayna shabran watsabbit aqdamana wanshurna ‘ alal qawmil kafirina . rabbana la tuzigh qulubana ba’da id’za daytana wahablana min ladunka rahmatan innaka antal wahhab . Allahumma tsabbitni an azila wahdini an adhilla. Allahumma kama hulta bayni wa bayna qalbi fahul bayni wa baynasy syaithani wa’amalihai . Allahumma inni as-aluka nafsan muthmainnatan tu’minu biliqa-ika wa tardha biqadhaika wa taqna’u bi’atha-ika.

Ya Allah, limpahkan kesabaran atas kami , tetapkanlah kedua telapak kaki kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. Ya Tuhan kami janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki kami dan berilah kami dari hadirat-Mu rahmat karena Engkau Maha Pemberi, Ya Allah kokohkan lah aku dari kemungkinan terpelesetnya iman dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan tersesat. Ya Allah sebagai mana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku dan berikanlah penghalang antara aku dengan setan serta perbuatannya . Ya Allah aku mohonkan pada-Mu jiwa yang tenang dan tentram yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas putusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu.

aamiin..

3..2..1..go !

Mulai sekarang

harus baik selalu..
sholat di awal waktu..
membahagiakan ortu,
bersama mereka, lebih banyak waktu..

mulai sekarang

sering-sering evaluasi diri..
harus lebih mandiri..
tambah semangat raih prestasi..
biar bisa menunjukkan bakti..

mulai sekarang

kudu rajin belajarr..
supaya sukses karna pintarr..
agar bisa membantu orang-orang terlantarr..
itulah pribadi yang cetarr..

Mulai dari SEKARANG... mumpung masih MUDA

Selasa, 20 Agustus 2013

Video 14/08/2013

Bismillah..

Video berikut ini adalah bukti kekejaman militer Mesir. Pendemo dan warga sipil ditembaki dengan gas airmata dan peluru tajam dari barbagai arah. Bahkan penembak jitu mereka kerahkan untuk membubarkan massa pro-Mursi (14/8/2013) ini.

Para pendemo tak bersenjata ini tak mampu melawan, kecuali meneriakkan takbir dan bersiap menjadi syuhada. Ratusan orang tewas dan luka-luka.

http://www.youtube.com/watch?v=5dn_RCVkfL4

Sumber:
arrahmah.com

Kamis, 15 Agustus 2013

#selamatkan tanah air kita

Palestina, Libya, Syria, Myanmar, dan kini Mesir. Tempat di mana saudara-saudara muslim dijajah dan dirampas hak-haknya termasuk haknya untuk hidup oleh para yahudi biadab dan sekutu-sekutunya.

Speechless... maaf ,saudaraku, saya terlambat menyadari kejadian ini..
Baru sekarang mulai menyaksikan syahid-mu dan merasakan penderitaan-mu dari balik layar yang aman ini..

Teringat kalimat yang meruntuhkan airmata teriring sesal mendalam..,

"kami, Ikhwanul Muslimin, yakin seyakin-yakinnya bahwa mengabaikan sejengkal tanah yang dihuni oleh seorang muslim adalah tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga kita mengembalikannya, atau hancur karenanya."

Kami mencintaimu wahai syuhada....


Kamis, 18 Juli 2013

Untuk anak-anak ayah tercinta

Assalamu'alaikum , anak-anakku..

Ayah ingin ceritakan sedikit tentang Ayah..

Dulu ketika ayah masih muda dan gagah, ayah selalu berpikir apa saja untuk membahagiakan kalian. Ayah bekerja dengan sepenuh hati dan tenaga yang ayah punya, untuk kalian. Karena kalian adalah raja bagi ayah dan Ibu kalian. Bahkan ayah sampai lupa kehadirat Tuhan, Sang Raja yang sesungguhnya dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

Ayah bahagia sekali melihat senyum di wajah kalian, setiap ayah pulang membawa oleh-oleh, tak pernah Ayah pulang dengan tangan kosong. Kini kalian sudah dewasa dan Ayah mulai lemah, Ayah mengerti apa yang kalian rasakan waktu kecil. Ayah pun demikian, ingin selalu dimanja.

Namun sepertinya kedewasaan kalian adalah sinyal bagi Ayah dan Ibu untuk berpisah dengan kalian. Kalian mulai pergi dan jarang menengok Ayah dan Ibu di rumah. Jadilah hanya Ibu yang merawat Ayah tanpa lelah. Dengar Nak, Ibu kalian juga sudah tua. Sudah mulai pikun, sering sakit, dan tak jarang Ayah melihat ibu menangis saat tubuh rentanya tak kuat berjalan.

Uang yang setiap bulan kalian bawakan cukup memenuhi kebutuhan kami, meski itulah yang menjadikan kalian berselisih. Pertengkaran kalian seperti kaca yang mengiris hati kami. Terutama Ayah, tak pantaskah kami menerima belas kasih kalian, setidaknya untuk mengganti sebagian kecil dari oleh-oleh yang Ayah bawakan sewaktu kalian kecil.

Ayah tahu, kami tak pantas berharap balas budi kalian, namun jika bukan kalian yang menjadi pembela kami, siapa lagi? Di akhirat kelak pun Ayah akan tetap menjadi Ayah kalian, yang dimintai pertanggung jawaban atas diri kalian, anak-anak Ayah.

Di hari-hari senja, Ayah berharap bisa bermanja dengan kalian, menikmati masa tua indah bersama Ibu, menimang dan bermain bersama cucu. Namun, yang terjadi malah keributan di antara kalian. Meributkan biaya pengobatan penyakit tua Ayah, biaya listrik dan air, biaya makan kami, yang kalian anggap tak adil pembagiannya. Menangis hati Ayah namun tak sanggup pula Ayah menolak pemberian kalian, karena memang Ayah tak dapat mencari nafkah lagi.

Belum lagi rumah yang hendak kalian jual padahal Ayah dan Ibu masih menempatinya. Kalian tahu, Ayah sedih sekali mendengan keributan soal yang satu ini, sebab di rumah inilah kalian dibesarkan, ke rumah ini Ayah pulang dan membawa oleh-oleh untuk kalian. Tetapi Ayah mengerti kekhawatiran kalian, rumah ini memang warisan satu-satunya yang Ayah dan Ibu miliki. Ayah merasa seperti benda rongsokan yang sayang bila dibuang. Benar kah?

Beberapa jam yang lalu, Ayah sadar, Ayah menangis untuk terakhir kalinya, 'Penjemput' Ayah telah tiba, rupanya Ibumu sudah menangkap pertandanya, ia pun mendatangi Ayah seusai shalat malam dan meminta Ayah meridhoinya, memaafkan segala kesalahannya. Ibumu menangis mencium tangan Ayah, dan yang mengiris hati Ayah bukan terharu akan kesalihan ibu kalian, namun saat itu tak ada satupun anak Ayah memberi sapaan terakhir.

Di detik-detik terakhir Ayah di dunia ini, Ayah ingat semua kejadian indah saat Ayah kanak-kanak, remaja, dewasa dan memiliki anak pertama, kedua, dan ketiga. Semuanya kebahagiaan Ayah. Astaghfirullah.. benar-benar sudah dekat malaikat maut itu. Selamat tinggal istriku, selamat tinggal anak-anak ayah...

Oh.. Ternyata Ayah masih bisa merasakan dan melihat kalian, dari ruang yang berbeda ini, tubuh Ayah telah kaku dan sakit ketika tersentuh. Bergantian orang-orang datang. Syukurlah, kalian juga datang dan menangisi kepergian Ayah. Tak lupa 'kan, permintaan Ayah yang terakhir, Ayah ingin dimakamkan di TPU tengah kota, dekat kubur saudara Ayah.

Bersama keluarga kalian masing-masing, Ayah melihat airmata cucu ayah yang ketakutan melihat jenazah Ayah. Kalian sibuk mempersiapkan acara pemandian dan pemakaman Ayah. Tetangga juga sangat baik mau membantu kalian. Saat dimandikan, Ayah berharap pelan-pelan saja menyirami dan menggosok tubuh Ayah, Nak. Tetesan air itu terasa pedih di tubuh jenazah.

Apa lagi salah Ayah? lagi-lagi kalian ribut masalah pemakaman Ayah. Hanya karena harga tanahnya yang agak mahal, kalian memilih menolak permintaan Ayah dan memilih TPU di pinggiran kota yang sebagian wilayahnya terendam air

Meski sedih, tapi Ayah tak dapat menolak. Terserah kalian saja. Oya, tahu tidak, Nak saat kalian menurunkan jenazah Ayah ke liang lahat, rasanya Ayah tenggelam, seperti cucian kotor yang kalian rendam. Dingin sekali, makanya Ayah mengitari kalian semua dan pengantar yang ada untuk meminta selimut. Namun nihil, kalian tetap tega merendam Ayah dan tanah makam jatuh mengotori sebagian kain penutup Ayah sebelum kalian menutup Ayah dengan papan penyanggah, begitu terburu-buru.

Selesai sampai di sini kah harapan Ayah terhadap kalian? Tidak, anak-anak Ayah. Ayah tetap menunggu kiriman doa kalian. Doa yang mungkin bisa menghangatkan tubuh Ayah dan melegakan sedikit lubang ini.
Hanya doa kalian yang tulus, sampai bagi Ayah. Semoga kalian tetap sehat, segara sadar akan dosa kalian, dan Allah jadikan Ayah ayah yang beruntung karena keshalihan kalian, meskipun Ayah tak lagi di sisi kalian. Namun Ayah tetap ada dan selalu menunggu doa-doa kalian untuk Ayah.


Salam,

Ayah yang menyayangi kalian