Pages

Selasa, 27 Desember 2016

sanggul melati

Tiba-tiba sampai padaku kabar tentangmu.
Tiba-tiba saja riuh ucapan doa tertuju padamu.
Tiba-tiba haru menyelimuti aku..
Tiba-tiba waktu ku tak keruan..
Tiba-tiba saja tersiar kabar yang menggelitik hatiku..
Tiba-tiba hambar tawa terlepas dari bibir ku..
Tiba-tiba tersentuh hatiku..
Tiba-tiba saja teringat semua cita-cita tinggimu..
Mengapa engkau tak perjuangkan mimpimu..
Oh, semua yang tiba-tiba..
Tiba-tiba saja aku malu telah mengagumi mu..

Senin, 21 November 2016

Haru nan gelisah

Biarlah beku yg tidak tersampaikan..
Biarlah jatuh yg tidak terperhatikan..
Biarlah redup yg tidak terdengarkan..
Biar remuk yang tidak terrasakan..

Hujan buangi semua letih..
Awan tutupi semua perih..
Angin seberangi semua mimpi..
Kelabu telusupi semua hati.. 

Masih kah ruang di dalam sana tertata rapi
Saat matahari pun enggan menyinari.. 

Padanya ada rasa.. 
Padanya ada haru nan gelisah

Jumat, 07 Agustus 2015

Pelatihan Edumagic


     Pelatihan Edumagic yang pertama di Serpong Tangsel. Berangkatnya naik motor hampir satu jam karena konvoi diperjalanan sedikit mengalami kendala. Ada yang hilang entah kemana, ada yang sibuk menelpon karena stag tidak tau jalan. Ada juga istirahat menunggu yang lain di persimpangan atau lampu merah.  Sampai di tekapeh, kami sedikit amazed, ternyata di pinggir jalan raya serpong arah Parung, ada "pabrik" serial anak-anak the Happy Holy Kids. 

     Di pelatihan ini kami belajar bernyanyi yang benar untuk anak-anak, sedikit diperkenalkan tentang produksi HHK, dan materi inti kali ini adalah Edumagic alias Sulap untuk pendidikan. Ada beberapa trik sulap yang ditunjukkan oleh trainer, Kak Tardy. Beberapa trik yang mengagumkan, yang biasanya cuma kami lihat di TV. Ternyata lagi, itu semua ada alatnya. Bisa dibeli di toko sulap. Dan beberapa trik yang diajarkan kepada kami. Luarbiasa. Benar-benar "magic".karena dengan benda-benda sederhana yang mudah kita temui sehari-hari bisa digunakan untuk menghibur dan mengajari anak tentang moral. Semua bahan dan cara memaiknannya dipadukan dengan bercerita tentang akhlak.. 


Kamis, 30 Juli 2015

Drama Sarung Warisan


Diangkat dari kisah nyata 

Pagi yang cerah nan ceria seketika mengiris hati. Lumuran darah yang membasahi seluruh kepala kakek tersayang. Beliau terjatuh dari atap lantai tiga rumah. Kejadian yang begitu mengejutkan ini sontak menggemparkan warga sepanjang gang. Kakek lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepanikan berlangsung begitu singkat. Sehelai kain sarung pun dipakaikan untuk menyelimuti tubuh kakek.
Tak terasa, hari-hari berlalu, kakek pun berangsur membaik. Mamah, tante, dan om bergantian menunggui di RS. Novi dan Ulfa, cucu kesayangan pun datang menengok keadaan kakek. Syukur terucap dalam hati mengetahui kakek sudah boleh kembali ke rumah.
“Ma, sarung Bapak mana?” Bisik Novi, si putri bungsu kepada Mama.
“Ada, lagi dicuci sama tante.” Jawab Mama tenang.
“Jangan sampe hilang atau rusak ya. Itu peninggalan almarhum Bapak satu-satunya untuk Novi.” Tegas Novi, lalu berpamitan pulang menyiapkan rumah untuk menyambut kepulangan kakek dari RS.
Sesampainya Kakek di rumah, Novi dan Ulfa kembali menanyakan sarung itu kepada Mama. Namun sarung itu tidak diketahui keberadaannya. Kini Ulfa angkat bicara.
“Ma, mana sarung Bapak? Kok dicari-cari tidak ketemu?”
“Aduh, dimana ya. Mama juga tidak tahu.” Jawab Mama bingung
“Pokoknya, Mama harus cari sarung itu. Itu peninggalan Bapak satu-satunya. ”
Sedikit menahan gundah Novi ikut bersuara, “Ingat tidak, Ma, Waktu Ayah pergi membawa semua barang-barang miliknya, tanpa mau menyisakan satupun untuk kita, lalu kami sembunyikan ditumpukan cucian?”
Seisi rumah pun sibuk mencari sarung yang tidak begitu bagus itu. Semua tumpukan pakaian dibongkar untuk menemukannya. Tetapi hasilnya nihil. Nenek menyerah dan meminta semuanya untuk berhenti mencari.
“Aduh , Sayang. Sarungnya dimana ya. Kalian beli saja ya, Nak. Ini nenek kasih uang seratus ribu. Harganya tidak mungkin lebih dari ini.” Kata Nenek sambil mengulurkan uang kepada Ulfa.
“Tidak. Kami mau sarung Bapak.”
“Belum ketemu, Nak. Nenek sudah lelah. Ini nenek tambah seratus ribu lagi ya.”
“Tidak. Pokoknya sarung itu harus ketemu!” teriak Ulfa menolak.
“Yasudah, Nenek tambah lagi deh, seratu ribu lagi untuk kalian beli sarung yang lebih bagus. Yang seperti sarung Bapak itu bisa dapat dua lho.” Rayu Nenek.
“Tidak, Nek. Biarpun Nenek kasih satu juta, kami tidak mau. Kami mau sarung itu!” Tegas Ulfa sambil menggenggam tangan adiknya, kemudian meninggalkan Nenek dan uangnya.
Akhirnya Nenek mengerahkan lagi seisi rumah untuk membongkar seluruh lemari dan juga tumpukan tumpukan pakaian untuk mencari sarung ajaib itu. Dan akhirnya sarung itu ditemukan terselip di lemari paling bawah. Tetapi Nenek dan yang lain sengaja tidak langsung mengembalikannya. Termasuk Suci kakak Ulfa dan Novi, menggoda Ulfa dan Novi yang sedang murung di teras.
“Yah, de. Sarungnya tidak ketemu. Lagi pula, sarung jelek masa ditangisi.” Goda Suci sambil tertawa
Novi pun menutup wajahnya dengan bercucuran airmata. Terus saja Kak Suci menertawainya. Karena kehilangan kesabaran, Novi yang tomboy dan berperawakan seperti laki –laki itu, mengambil segelas teh hangat di sampingnya dan segera saja ia lemparkan kepada Kak Suci.
“Cukup.! Siapapun yang menghilangkan atau merusak sarung itu, berurusan sama Novi!” Amarah Novi tak terbendung  dan meninggalkan semua orang.
Semua orang pun menertawainya dan mengembalikan sarung itu kepada Ulfa.

Kamis, 28 Mei 2015

Lupakan Ambisi Pribadi

Bersama tapi tidak sepaham..
sepaham tapi tidak bersama
kondsi yg selalu hadir di antar kita di majelis ini..

bukankah tujuan kita sama,
bukankah hati kita terpaut dakwah
bukankah tauladan kita rasulallah jua
bukankah kita lahir dari rahim dakwah yg tak beda

Banyak orang yang ingin bicara
banyak kata yang ingin disuarakan

Apakah benar atau salah
setidaknya persilahkan dengan ikhlas
atau majukan dengan cerdas..
bangkitlah.. enyahlah kau rasa malas

Gerakan ini gerakan rabbani
yakini satu hal, kita cinta harmoni
barisan cinta, bukan ambisi


Senin, 15 Desember 2014

Kematian yang sangat menyakitkan



Minggu siang jam 08.00 pagi ini aku bergegas berangkat ke kantor. Jarak kantor dan rumah tidak terlalu jauh. Isteriku bilang ia juga akan keluar untuk membeli obat untuk putri ketiga kami.

Kak, aku ke toko obat beli obat untuk Dede..
Anak-anak aku kunci di dalam rumah, mereka masih tidur.
Aku Cuma sebentar.

Saat menerima pesan dari isteriku, tiba-tiba perasaan ku tidak nyaman. Aku putuskan untuk pulang ke rumah, melihat anak-anakku.

Pukul 10.00 aku tiba di pekarangan rumah, ku lihat ramai orang berkumpul di depan rumahku. Aku segera memarkir kendaraanku dan kulihat banyak asap keluar dari celah-celah genting rumahku, aku berlari menghampiri dan berteriak “Api..api..api..!” Semua orang hanya ribut tanpa ada yang berusaha memadamkan api yang melahap rumahku.

“Masya Allah, anak-anak saya, Pak, Bu !” Ku teriaki siapa saja yang ada tapi semua hanya berceloteh tanpa berbuat apa-apa. “Anak-anak saya ada di dalam..!” Pekik ku sekali lagi sambil berlari menuju pintu rumah.

Belum lagi dapat ku raih gagang pintu, sejumlah warga menahan tubuhku dan menjauhkan ku dari pintu. Aku berteriak lagi memanggil-anak-anak ku. Ku saksikan mereka sudah di depan kaca jendela, menggedor-gedor kaca sambil menangis dan berteriak.

Aku tidak berdaya melepaskan diri dari genggaman orang-orang besar yang terus menahan ku untuk menyelamatkan anak-anak ku. AAARRRGGHHH!!!

Anak-anakku masih di depan jendela terus menggedor-gedor kaca dan menangis. “Ayaaah..ayaaah...”. Sampai akhirnya aku tidak lagi melihat mereka mungkin mereka lelah. Setelah satu jam pemadam kebakaran datang dan bekerja, setelah padam barulah warga melepaskan aku, dan membiarkan aku masuk mengeluarkan anak-anak ku dari sana. Alhamdulillah, aku menemukan mereka di dekat jendela. Ya mereka bertiga berpelukan. Anak sululngku memeluk kedua adiknya. Tubuh mereka hitam hitam semua dan kaku. Tubuh mereka melekat satu sama lain dan kaku. Anak-anak ku telah tiada. Semoga Allah mengampuni kebodohanku selama diamanahi ketiga putriku ini..

Masih tak paham sesulit apakah menjebol jendela untuk menyelamatkan putri-putriku ini. Mengapa tidak ada satupun warga yang mendengar teriakan mereka, setidaknya iba melihat putri ku melambai-lambai di balik kaca. 

Betapapun sesal yang kurasa takkan mengembalikan mereka. Aku ikhlaskan anak-anak ku yang masih kecil-kecil ini, semoga menjadi penyelamat di hari kiamat kelak.
 

Barangsiapa yang diamanahi Allah seorang putri, bila mati tidak ditangisi, dan bila hidup dididik secara baik, maka dia dapat jaminan surga
(HR. Abu Dawud, Hakim dari Ibnu Abbas)

.
 Jambi, 2012

Senin, 25 November 2013

Dakwah di Sekolahku

Tiga tahun lalu, aku mulai melirik dunia dakwah sekola. Padahal, aku sudah dinyatakan lulus dari SMK. Hem.. aku jadi bingung harus bercerita dari mana..

Sebenarnya, sejak masa orientasi siswa, aku sudah terdaftar sebagai anggota ROHIS SMK, namun karena aku juga aktif latihan beladiri -waktu itu- membuatku menjadi anggota pasif di ROHIS. Aku tidak pernah hadir mentoring ROHIS, ta'lim gabungan pun hanya sebulan sekali, acara apapun yang diadakan hampir tak pernah aku ikuti, hanya jika ada waktu senggang alias tidak bentrok dengan jam latihan.

Mungkin ini yang disebut hidayah, setelah lulus sekolah aku dilanda gelisah memikirkan kerja atau nikah -sudah ada calonnya- aku tak percaya saran siapapun, termasuk sahabatku sendiri. Entah bagaimana, aku pun mendatangi seorang kakak mentor ROHIS yang tidak begitu aku kenal. Beliau masih muda dan sudah menikah, tentu bisa mengarahkanku kepada solusi yang baik. Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang ROHIS -membosankan-, lalu dengan persaan galau, aku minta didata sebagai anggota aktif ketika temanku itu mendata seluruh anggota ROHIS dan mengklasifikasi anggota pasif dan aktif. Sejak itu aku mulai rajin datang dan ikut acara ROHIS di sekolah walaupun sudah berstatus alumnus.

Saat ikut rihlah (jalan-jalan) ROHIS selama dua hari membuatku merasa memiliki teman-teman yang menyenangkan dan menyejukkan, persaudaraan yang selama ini tidak pernah aku rasakan. Mereka baik dan tulus, lembut serta penuh kasihsayang kepada ku. Tak ada anak emas apalagi yang paling hebat, semuanya saling menyayangi.

Satu tahun menjadi aktifis ROHIS, membuatku semakin kadung akan dakwah. Aku pun bergabung di sebuah organisasi remaja masjid. Semakin hari, aku mulai mengerti mengapa dakwah itu butuh kesabaran, dan mengapa para da'i (pendakwah) tidak ingin pergi dari mimbar-mimbarnya. Benar bahwa ummat membutuhkan tuntunan dan bimbingan namun mereka tidak tau betapa mereka butuh. Ummat butuh bantuan pendokrak moral yang sudah lama hilang dari citra bangsa kita. Itu lah tanggungjawab kita, para aktifis dakwah.

Kembali ke topik, tentang dakwah di sekolahku. Setiap hari merasa sibuk dengan berbagai urusan pribadi, kesibukan kerja dan dakwah di luar ROHIS sekolah, telah melalaikanku dari dakwah di sekolahku. Adik-adik kelas, mulai kehilangan arah pergerakan. Satu tahun tanpa melihat mereka, membuatku beristighfar sebanyak-banyaknya, mereka telah hilang dari markas kami yang agung. Tak ada lagi yang mewarnai masjid kami dengan aktifitas-aktifitas tentara putih abu-abu yang biasanya ramai.

Ku coba menilik, ada apa sih, kok hilang aktifis ROHISnya?? ternyata ada virus pink yang mewabah sehingga ta'lim bukan agenda rutin mereka lagi. Duduk-duduk di aula sekolah bersama kekasih, makan berdua sama pacar., tanpa peduli sorotan publik yang menuntut kesolehan mereka. huft.. agenda baru yang asyik memang, tapi memalukan sekali jika pelakunya adalah orang-orang yang seharusnya mengakkan syari'at Islam. Mbok ya diinget gitu loh, niat waktu pertama memutuskan gabung di ROHIS. Katanya mau belajar agama dan menjadi manusia yang lebih baik.

Di pikir-pikir, benar tidak ada asap jika tak ada api. Coba aku tulis penyebab adik-adik ku sampai begini, mungkin inlah dia:
1. Mereka malas datang mengaji
2.  Mereka bosan dengan agenda ROHIS yang monoton
3. Kakak Pembina tak pernah datang menengok

Faktor ketiga yang paling banyak peran meruntuhkan perjuangan para aktifis dakwah sekolah. Menyesal ? Sangat, karena sibuk dengan dunia baru melupakan rumah lama yang butuh perwatan lebih. Mari merenung lagi deh setahun. Tak ada aktifitas dakwah selama satu tahun. Al hasil, lost satu angkatan bahkan dua.

Baik. Sudah lama sekali fakum tanpa seruan jihad di sekolah tercinta ini, kami mulai bersatu lagi, aku dan alumni yang masih peduli ROHIS, membentuk semacam panitia persiapan kemerdekaan. Walaupun tak lama kemudian kami terpecah karena tak sejalan. Masih ada segelintir yang istiqomah, yang seiya sekata. kurang lebih satu bulan kami diam tanpa gerak sama sekali. Aku pun mengeluh kepada pembina senior kami. Kalimatnya benar-benar sakti, "Ïnsya Allah, setelah ini kita akan bergerak melesat. Allahu akbar.!". Yup, Allaahu akbar.. Setelah mengevaluasi, kami berusaha mulai lagi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu.

Alhmadulillah, sekarang ROHIS SMK kami, tengah menjadi sorotan seluruh siswa dan para guru, bahkan menjadi ekskul paling elit karena semangat dan keteraturan para anggotanya. Para guru sekolah lainyang berada dalam satu yayasan dengan SMK, menuntut agar pembina ROHIS untuk membuka ekskul ini bagi siswa-siswanya.


Ukh. Abdillah
November 2013